Pemukim Israel Bertopeng Serang Rombongan Diplomat Eropa di Tepi Barat yang Diduduki
TAYBEH, TEPI BARAT — Sekelompok pemukim Israel bertopeng dan bersenjata menyerang rombongan diplomat Eropa pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di dekat desa Taybeh, sebuah desa Kristen Palestina di timur Ramallah, Tepi Barat yang diduduki. Serangan itu melukai tiga orang dan merusak setidaknya satu kendaraan diplomatik Belgia, memicu gelombang kecaman internasional terhadap Israel.
Para korban termasuk diplomat dari Prancis, Belgia, dan Polandia, Wali Kota Prancis Bernard Baudoux dari Aulnoye-Aymeries, serta Uskup Agung Cambrai Vincent Dollmann dan sejumlah perwakilan Katolik. Rombongan tersebut tengah bergabung dengan petani Palestina dalam kegiatan panen zaitun tahunan sekaligus menghadiri peluncuran perjanjian kota kembar antara Taybeh dan kota Baudoux.
Kronologi Serangan
Wali Kota Baudoux memaparkan serangan berlangsung tiba-tiba dan terorganisasi. Ia mengisahkan bahwa para pelaku turun dari tiga kendaraan dengan membawa batang besi.
"Tiga kendaraan datang. Sejumlah orang bertopeng yang membawa batang besi turun dari kendaraan dan menghampiri kami dengan sangat agresif."
— Bernard Baudoux, Wali Kota Aulnoye-Aymeries, Prancis
"Namun, mereka tetap menyerang. Saya dipukul dengan batang besi, ditendang, lalu dijatuhkan ke tanah. Kami akhirnya berhasil kembali ke kendaraan masing-masing."
— Bernard Baudoux, Wali Kota Aulnoye-Aymeries, Prancis
Baudoux dipukul dengan batang besi, ditendang, dan dijatuhkan ke tanah, namun dilaporkan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Kaca kendaraan diplomatik Belgia dilaporkan pecah akibat serangan tersebut. Secara keseluruhan, tiga orang mengalami luka-luka dalam insiden ini.
Serangan ini terjadi sehari setelah fotografer The Washington Post, Heidi Levine, terluka parah dalam serangan pemukim serupa saat meliput panen zaitun di dekat Abu Falah pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Reaksi Internasional: Kecaman dan Tuntutan Sanksi
Uni Eropa, Belgia, dan Prancis segera mengutuk serangan tersebut. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menuntut penangkapan para pelaku.
"Otoritas Israel harus segera menangkap mereka yang bertanggung jawab atas tindakan keterlaluan ini dan membawa mereka ke pengadilan."
— Jean-Noel Barrot, Menteri Luar Negeri Prancis
Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot melangkah lebih jauh dengan menyerukan sanksi tambahan Uni Eropa terhadap Israel.
"Para pemukim yang melakukan kekerasan tidak boleh terus dibiarkan lolos dari jerat hukum."
— Maxime Prevot, Menteri Luar Negeri Belgia
Juru bicara Uni Eropa menyatakan pihaknya mencatat positif sejumlah pernyataan kecaman dari perwakilan Israel, namun mendesak lebih dari sekadar kata-kata.
"Kami mencatat secara positif pernyataan oleh beberapa perwakilan Israel yang mengutuk serangan tersebut, tetapi kami mengharapkan akuntabilitas penuh serta langkah-langkah efektif untuk mencegah tindakan kekerasan dan pelecehan yang terus-menerus terhadap warga Palestina, termasuk selama musim panen zaitun yang sedang berlangsung, serta terhadap jurnalis."
— Juru bicara Uni Eropa
Respons Israel: Kecaman dan Penghindaran Tanggung Jawab
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar mengutuk serangan itu dan polisi Israel meluncurkan penyelidikan. Namun, Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengambil nada berbeda dengan menyerukan kehati-hatian sebelum "menarik kesimpulan" dan mempertanyakan apakah kunjungan para diplomat telah dikoordinasikan dengan pihak militer.
"Saya sangat mengutuk tindakan kekerasan yang parah oleh perusuh Israel di daerah Taybeh."
— Gideon Sa'ar, Menteri Luar Negeri Israel
Seorang diplomat Eropa yang tidak disebutkan namanya membantah keraguan yang dilontarkan pihak Netanyahu.
"Faktanya jelas. Kami diserang."
— Seorang diplomat Eropa yang tidak disebutkan namanya
Sang diplomat juga menegaskan bahwa Israel, sebagai penguasa pendudukan, bertanggung jawab atas keamanan di Tepi Barat.
Konteks: Eskalasi Kekerasan Pemukim Selama Panen Zaitun
Insiden ini merupakan bagian dari lonjakan kekerasan pemukim Israel yang lebih luas di Tepi Barat selama musim panen zaitun tahunan — momen yang secara ekonomi dan budaya sangat penting bagi komunitas Palestina. Sejak akhir September 2026, kelompok hak asasi manusia Israel Yesh Din melaporkan lebih dari 170 serangan pemukim, yang menyebabkan setidaknya empat kematian, lebih dari 100 luka-luka, dan kerusakan pada ribuan pohon zaitun. Israel juga dilaporkan membatasi kegiatan panen zaitun di Area C, wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel.
Pastor Paroki Taybeh, Fr Bashar Fawadleh, menegaskan bahwa serangan kali ini bukan kejadian yang berdiri sendiri.
"Apa yang terjadi hari ini bukanlah insiden yang terisolasi. Ini merupakan eskalasi kekerasan pemukim yang sangat mengganggu."
— Fr Bashar Fawadleh, Pastor Paroki Taybeh
Wali Kota Baudoux sendiri menuding adanya toleransi dari pemerintah Israel terhadap aksi para pemukim.
"Menurut saya, jika para pemukim bertindak seperti ini, berarti ada toleransi dari pihak pemerintah Israel."
— Bernard Baudoux, Wali Kota Aulnoye-Aymeries, Prancis
Perdana Menteri Netanyahu sebelumnya dilaporkan telah membela kelompok pemukim dalam upaya menggalang dukungan suara di tengah kampanye pemilihan umum yang sedang berlangsung. Kehadiran saksi internasional — termasuk diplomat dan jurnalis — tampaknya tidak lagi menjadi penghalang bagi tindak kekerasan ekstrem di lapangan.
Baudoux, setelah selamat dari serangan, mengingatkan dunia bahwa nasib paling berat tetap ditanggung oleh warga Palestina di sana.
"Dunia harus tahu apa yang sedang terjadi. Bagi saya, saya akan kembali ke negara saya dan semuanya akan baik-baik saja. Mereka yang terus menderita paling parah adalah orang-orang yang berada di sini."
— Bernard Baudoux, Wali Kota Aulnoye-Aymeries, Prancis
Penyelidikan polisi Israel atas serangan terhadap rombongan diplomat masih berlangsung hingga berita ini diturunkan.