Bayi 24 Hari Meninggal Usai Diberi Telur Mentah di Surabaya

Bayi Alena meninggal di RSUD dr. Soetomo Surabaya setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk meredakan demam.

• MW Media
Published Oktober 19, 2026 • 12.15 WITA
Bayi 24 Hari Meninggal Usai Diberi Telur Mentah di Surabaya
Gambar Ilustrasi

Viral Bayi 24 Hari Meninggal Usai Diberi Telur Mentah, Dokter Peringatkan Bahaya Sepsis

SURABAYA — Seorang bayi perempuan berusia 24 hari bernama Alena meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 07.10 WIB. Kematian bayi tersebut diduga dipicu oleh infeksi berat setelah neneknya memberikan telur mentah dengan tujuan meredakan demam yang dialami sang bayi. Kasus ini viral di media sosial dan memicu respons dari kalangan medis nasional.

Kronologi Kasus

Berdasarkan informasi yang beredar, bayi Alena mulai dirawat intensif di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUD dr. Soetomo pada Jumat, 9 Oktober 2026, setelah kondisinya memburuk. Dua hari kemudian, pada Minggu pagi, Alena dinyatakan meninggal dunia. Beberapa sumber menyebut usia bayi tersebut adalah 28 hari, namun sebagian besar sumber mencatat 24 hari.

Kasus ini pertama kali diketahui publik luas setelah tante Alena, yang dikenal dengan akun @calisthaarisha di platform Threads, mengunggah ceritanya. Unggahan itu awalnya ditujukan untuk mencari ketersediaan ruang NICU bagi sang bayi, namun kemudian menyebar luas dan menjadi viral.

"Buat kasus ini sudah ditindaklanjuti. Kami berterima kasih kepada tim medis yang sudah berusaha keras untuk adik A."

— Calista Arisha, tante Alena

Pihak keluarga menyatakan bahwa kasus ini telah ditindaklanjuti. Beberapa anggota keluarga meyakini tidak ada unsur kesengajaan dalam pemberian telur mentah tersebut. Rincian mengenai pelaporan ke pihak kepolisian belum dijelaskan secara eksplisit.

Konfirmasi Rumah Sakit dan Pemerintah

Pihak RSUD dr. Soetomo mengonfirmasi bahwa bayi Alena memang sempat menjalani perawatan di fasilitas mereka.

"Pasien tersebut memang benar sempat dirawat di RSDS dan tim medis telah memberikan upaya penanganan maksimal sesuai standar pelayanan dan kebutuhan pasien."

— Robeth Jabbar, Kepala Bagian Umum RSUD dr. Soetomo

Laporan kasus ini masuk ke Dinas Kesehatan Sidoarjo pada Senin, 12 Oktober 2026. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo menyatakan penelusuran masih berjalan.

"Semua jawaban belum ada. Masih proses telusur."

— Lakhsmie Herawati Yuwantina, Kepala Dinkes Sidoarjo

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turut merespons kasus ini dengan mengutamakan penghormatan terhadap keluarga yang berduka.

"Untuk saat ini, izinkan saya menghormati kondisi ibunda dari Alena dan keluarga yang sangat berduka. Keterangan lebih lanjut akan kami sampaikan di waktu yang tepat."

— Emil Elestianto Dardak, Wakil Gubernur Jawa Timur

Penjelasan Medis: Bahaya Telur Mentah bagi Neonatus

Pada Selasa, 13 Oktober 2026, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur memberikan penjelasan medis terkait kematian bayi Alena. Dokter dari IDAI menegaskan bahwa infeksi pada bayi baru lahir dapat menyebar dengan sangat cepat karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum matang.

"Kalau ada infeksi pada neonatus bisa cepat sekali menyebar ke usus atau menyebar ke darah menjadi sepsis."

— dr. Sjamsul, IDAI Jawa Timur

Kematian bayi Alena diduga dipicu oleh penyebaran infeksi berat, kemungkinan sepsis, yang berkembang cepat akibat sistem imun dan pencernaannya yang belum sempurna.

Ketua Pengurus Pusat IDAI secara tegas melarang pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi.

"IDAI menegaskan bahwa telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan."

— dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), Ketua Pengurus Pusat IDAI

Telur mentah berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna parah, demam, muntah, dehidrasi, hingga sepsis — kondisi yang sangat berbahaya bagi bayi yang organ-organnya belum berkembang penuh.

Peringatan Ahli Gizi: ASI Satu-satunya Nutrisi yang Tepat

Ahli gizi dari Universitas Airlangga mengingatkan bahwa bayi di bawah usia 6 bulan seharusnya hanya menerima Air Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya sumber nutrisi. Pemberian makanan lain apa pun pada usia tersebut tidak hanya tidak bermanfaat, tetapi justru membahayakan.

"ASI memenuhi kebutuhan gizinya dan juga memberi perlindungan imun atau antibodi. Pemberian telur, madu, pisang, atau bubur pada usia sekecil atau sedini ini tidak punya manfaat gizi, tetapi justru membawa risikonya berbahaya."

— Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz, M.Si, Ph.D, Dosen Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

Catatan Penting bagi Pengasuh Bayi

Kasus ini menyoroti bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kepercayaan tradisional atau kurangnya pengetahuan medis yang tepat dalam merawat bayi, khususnya terkait penanganan demam dan pemberian asupan di luar ASI. Para ahli medis, termasuk IDAI dan ahli gizi, secara bulat menegaskan bahwa sistem pencernaan dan kekebalan tubuh bayi di bawah 6 bulan belum cukup berkembang untuk mencerna makanan padat maupun semi-padat, termasuk telur dalam kondisi mentah sekalipun.

Orang tua dan pengasuh diimbau untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis profesional apabila bayi mengalami gejala sakit seperti demam, dan tidak menggunakan metode tradisional yang belum terbukti secara ilmiah aman bagi neonatus.