BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Sepekan untuk Sulawesi Utara

BMKG mewanti-wanti potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di Sulawesi Utara pada 19–25 Oktober 2026.

• MW Media
Published Oktober 19, 2026 • 12.19 WITA
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Sepekan untuk Sulawesi Utara
Gambar Ilustrasi

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Sepekan untuk Sulawesi Utara, Waspadai Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi

Manado, 18 Oktober 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado resmi menerbitkan peringatan dini cuaca tujuh harian untuk wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Peringatan ini berlaku mulai Senin, 19 Oktober 2026, hingga Minggu, 25 Oktober 2026, mencakup potensi hujan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di sejumlah wilayah.

Kondisi cuaca ekstrem ini merupakan dampak interaksi sejumlah faktor meteorologi regional dan global, antara lain aktivitas Monsun Australia, fenomena El Niño yang sangat kuat, serta keberadaan Siklon Tropis Champi di Samudra Pasifik.

Faktor Pemicu: El Niño Sangat Kuat dan Siklon Tropis

BMKG mencatat kondisi atmosfer saat ini dipengaruhi oleh aktivitas Monsun Australia yang telah aktif sejak April 2026 dan diprediksi tetap aktif pada September hingga Oktober 2026, menyebabkan angin dominan bertiup dari arah tenggara hingga selatan. Di sisi lain, fenomena El Niño terpantau berada pada intensitas sangat kuat dengan indeks NINO 3.4 mencapai +2,76 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -19,0.

El Niño yang kuat secara umum berpotensi menghambat pertumbuhan awan, memicu penurunan curah hujan, kekeringan, serta meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Namun demikian, keberadaan Siklon Tropis Champi di Samudra Pasifik sebelah timur Filipina, dikombinasikan dengan adanya belokan angin (shearline) di wilayah Sulawesi Utara, justru mendukung pertumbuhan awan hujan secara lokal di kawasan tersebut.

Rincian Prakiraan Cuaca Harian

Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi cuaca bervariasi sepanjang periode peringatan. Pada Senin, 19 Oktober, dan Selasa, 20 Oktober 2026, tidak ada wilayah yang secara khusus masuk dalam daftar potensi hujan maupun angin kencang.

Pada Rabu, 21 Oktober 2026, potensi hujan diprakirakan terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sementara itu, potensi angin kencang diprakirakan melanda delapan wilayah sekaligus, yakni Kota Manado, Kota Bitung, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud.

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, potensi angin kencang masih mengancam Manado, Bitung, Minahasa Utara, Kepulauan Sitaro, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud. Potensi serupa berlanjut pada Jumat, 23 Oktober 2026, di Manado, Bitung, Minahasa Utara, Kepulauan Sitaro, dan Kepulauan Sangihe.

Memasuki Sabtu, 24 Oktober 2026, potensi hujan diprakirakan terjadi di Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Selatan, Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud. Pada hari terakhir periode peringatan, Minggu, 25 Oktober 2026, potensi hujan beralih ke wilayah Kota Manado, Kota Tomohon, Kota Kotamobagu, Kabupaten Minahasa, dan Kabupaten Minahasa Selatan.

Peringatan Gelombang Tinggi di Perairan Sulawesi Utara

Selain peringatan cuaca di darat, BMKG juga menerbitkan peringatan dini gelombang tinggi untuk perairan Sulawesi Utara yang berlaku dari 19 hingga 22 Oktober 2026. Gelombang diprakirakan dapat mencapai ketinggian 2,5 meter di beberapa perairan, dan antara 2,5 hingga 4 meter di perairan Kepulauan Talaud serta Laut Maluku.

"Kecepatan angin yang cukup tinggi tersebut dapat memicu peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah perairan tersebut."

— Aqil Ihsan, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Bitung

Imbauan Kewaspadaan

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir dan kepulauan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi cuaca secara tiba-tiba. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, serta gelombang tinggi perlu diantisipasi sejak dini, terutama bagi nelayan dan pengguna transportasi laut yang melintas di perairan Kepulauan Talaud dan Laut Maluku.

Masyarakat dianjurkan untuk terus memantau informasi terkini dari BMKG dan mengikuti arahan pemerintah daerah setempat guna meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem selama periode peringatan berlangsung.