Kualitas Udara Memburuk, GMNI Manado Bagikan 2.400 Masker Gratis

AQI Manado capai 110 akibat asap karhutla. GMNI dan GMKI Manado bagikan ribuan masker gratis kepada warga.

• MW Media
Published Oktober 18, 2026 • 20.05 WITA
Kualitas Udara Memburuk, GMNI Manado Bagikan 2.400 Masker Gratis
Gambar Ilustrasi

Kualitas Udara Memburuk Akibat Karhutla, GMNI Manado Bagikan 2.400 Masker Gratis

MANADO, Sulawesi Utara — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Manado membagikan total 2.400 masker gratis kepada masyarakat di Pasar Bersehati dan Pelabuhan Manado sebagai respons atas memburuknya kualitas udara di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara itu. Aksi yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2026 ini dipicu oleh lonjakan Indeks Kualitas Udara (AQI) Kota Manado yang pada 14 Oktober 2026 mencapai angka 110, masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Data yang tercatat menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Manado berada pada angka 39,3 mikrogram per meter kubik — jauh melampaui ambang batas aman harian yang direkomendasikan. Penurunan kualitas udara ini mulai terdeteksi sejak memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga akhir September 2026, dengan sumber pencemaran utama berasal dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua dan Kalimantan, serta kebakaran lokal di kawasan Gunung Lokon, Kota Tomohon.

Serentak di Dua Lokasi Strategis

GMNI Manado memulai distribusi masker pada 15 Oktober 2026 dengan membagikan 2.000 masker di Pasar Bersehati, salah satu pusat perekonomian rakyat terbesar di Manado. Sehari kemudian, pada 16 Oktober 2026, distribusi dilanjutkan dengan 400 masker tambahan di Pelabuhan Manado, sehingga total keseluruhan mencapai 2.400 lembar masker.

"Kegiatan tersebut menyasar para pedagang dan masyarakat yang beraktivitas di Pasar Bersehati."

— Michelle Philia Jacob S.IP, Ketua DPC GMNI Manado

Ketua DPC GMNI Manado, Michelle Philia Jacob S.IP, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian nyata organisasinya terhadap kondisi kesehatan warga yang terdampak polusi udara.

"Upaya penanganan diperlukan agar warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan dapat memperoleh perlindungan di tengah kondisi udara yang dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan."

— Michelle Philia Jacob S.IP, Ketua DPC GMNI Manado

GMNI Manado juga mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret, cepat, dan terukur dalam penanganan kualitas udara di Kota Manado.

GMKI Manado Turut Bergerak

Sehari sebelum aksi GMNI, pada 14 Oktober 2026, organisasi mahasiswa lain yakni Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Manado juga telah membagikan 1.000 masker gratis kepada masyarakat. Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) GMKI Manado, Prayer Abraham Alvaromeo Paruntu, menyatakan bahwa tindakan langsung diperlukan di tengah situasi yang tidak bisa ditunggu begitu saja.

"Ketika udara yang kita hirup mulai mengkhawatirkan, kita tidak boleh hanya diam dan menunggu keadaan membaik. GMKI harus hadir, bergerak, dan melakukan sesuatu yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Seribu masker ini mungkin tidak menyelesaikan persoalan karhutla, tetapi ini adalah bentuk kepedulian kami untuk membantu melindungi warga di tengah kondisi yang sedang terjadi."

— Prayer Abraham Alvaromeo Paruntu, Ketua BPC GMKI Manado

"Kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab kita bersama, dan persoalan lingkungan tidak boleh dianggap sepele."

— Prayer Abraham Alvaromeo Paruntu, Ketua BPC GMKI Manado

Respons Pemerintah dan Kronologi Krisis Udara

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Manado juga telah mengimbau warga untuk menggunakan masker dan berencana menggelar aksi pembagian masker secara mandiri. Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado, Bobby Kristofel Kereh, menyatakan bahwa langkah perlindungan masyarakat terus digencarkan.

"Pembagian masker dilakukan sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi dan berpotensi terpapar asap kebakaran."

— Bobby Kristofel Kereh, Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado

Sebelumnya, pada 30 September 2026, Dinkes Manado tercatat telah membagikan masker kepada warga yang terdampak kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumompo. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manado pada 7 Oktober 2026 juga telah melaporkan bahwa kualitas udara di kota ini terpengaruh asap karhutla disertai peningkatan intensitas debu.

Gabungan aksi distribusi masker dari GMNI, GMKI, dan Dinkes Manado mencerminkan meningkatnya kekhawatiran berbagai pihak terhadap dampak kesehatan jangka pendek yang ditimbulkan oleh polusi udara, khususnya bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit pernapasan.