Antrean BBM di Manado Mengular hingga Lebih dari Satu Kilometer, Pemobil Bawa Bekal Makanan dan Ojol Keluhkan Pendapatan Berkurang
Manado, Sulawesi Utara — Antrean panjang kendaraan untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Solar masih terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Manado, Sulawesi Utara, hingga Jumat (17/10/2026). Kondisi ini telah berlangsung sejak 14 Oktober 2026 dan memaksa sebagian warga membawa bekal makanan dari rumah karena waktu tunggu yang bisa mencapai hampir tujuh jam.
Di SPBU Kairagi 1, antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga sekitar 800 meter untuk mobil dan 400 meter untuk sepeda motor. Sementara di SPBU Malalayang dan Sario, panjang antrean bahkan melampaui satu kilometer. Kondisi ini menyempitkan badan jalan dan menyulitkan kendaraan lain — termasuk truk kontainer — untuk melintas, sehingga menyebabkan gangguan lalu lintas di sejumlah ruas jalan protokol kota.
Warga Terpaksa Bawa Bekal, Ojol Rugi Waktu dan Pendapatan
Detty, seorang pengendara mobil, mengaku sudah mengantisipasi lamanya antrean dengan menyiapkan bekal makanan dari rumah.
"Saya berpikir antre bisa lama, sehingga menyiapkan bekal makanan dari rumah," ujar Detty.
Ia menambahkan bahwa waktu tunggunya sangat panjang.
"Saya mulai antri pukul 06.00 Wita di SPBU Tugu Adipura, selesai antrian dan bisa mengisi pertalite pukul 12.45 Wita," kata Detty, yang berarti ia menghabiskan hampir tujuh jam hanya untuk mengisi BBM.
Keluhan serupa datang dari para pengemudi ojek online (ojol) yang sangat bergantung pada kendaraan bermotor untuk mata pencaharian. Ateng, seorang pengemudi ojol, mengungkapkan beratnya situasi ini.
"Kami setengah mati kalau ojek online mencari nafkah dan antrean begini," ujarnya. "Mudah-mudahan antrean ini cepat normal karena sudah tiga hari antrian begini."
Sonny Lombogia, pengemudi ojol lainnya, juga merasakan dampak langsung terhadap penghasilannya.
"Saya sebagai ojek online sangat terganggu dengan antrian yang panjang ini karena pendapatan perhari pasti berkurang," ucapnya.
Anas, pengemudi becak motor (bentor), turut menyampaikan keluhannya.
"Antrean ini sangat mengganggu, apalagi kami mengandalkan bentor untuk mencari nafkah. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja justru habis untuk mengantre BBM," kata Anas.
Seorang pengemudi transportasi daring lainnya yang menggunakan platform InDrive juga menyebut bahwa banyak waktu produktif yang terbuang. "Antrean ini sangat mengganggu aktivitas saya dalam mencari nafkah melalui InDrive. Banyak waktu terbuang untuk mengantre, sehingga kesempatan untuk mendapatkan penghasilan juga berkurang," ujarnya.
Dewangga, seorang karyawan swasta, menilai situasi ini jauh berbeda dari kondisi normal. "Biasanya antrean tak lama, kini sudah lama dan panjang apalagi panas," katanya.
Penyebab: Keterlambatan Kapal Tanker Akibat Cuaca Buruk
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mengungkapkan bahwa penyebab utama antrean panjang ini adalah keterlambatan distribusi BBM akibat kendala cuaca buruk yang memengaruhi kedatangan kapal tanker pengangkut Pertalite dan Solar ke wilayah Sulawesi Utara.
Lilik Hardiyanto, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, menyampaikan permohonan maaf sekaligus pembaruan terkait upaya penanganan.
"Kami memahami bahwa antrean BBM yang terjadi di sejumlah SPBU telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat," ujar Lilik.
"Dengan adanya tambahan pasokan Pertalite sebanyak 3.000 kilo liter (KL) melalui IT Bitung, kami berharap ketahanan stok semakin kuat dan kondisi pelayanan di SPBU dapat berangsur membaik," tambahnya.
Kronologi dan Upaya Penambahan Pasokan
Berdasarkan data yang dihimpun, antrean panjang BBM mulai terpantau pada 14 Oktober 2026. Pada 15 Oktober, antrean mengular di mayoritas SPBU Manado sehingga Pemerintah Kota Manado menggelar rapat dengan Pertamina Wilayah SulutGo dan memberi tenggat waktu dua hingga tiga hari untuk menyelesaikan masalah.
Pada 16 Oktober 2026, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menambah pasokan 3.000 KL Pertalite melalui Integrated Terminal (IT) Bitung. Pertamina juga menjadwalkan tambahan pasokan 5.000 KL Pertalite yang tiba pada hari yang sama melalui Terminal BBM Bitung. Lebih lanjut, Pertamina mempersiapkan tambahan pasokan sebesar 10.000 KL Pertalite yang dijadwalkan masuk pada 19–20 Oktober 2026.
Pada 17 Oktober 2026, kapal tanker MT Maritim Khatulistiwa diberangkatkan membawa tambahan 5 juta liter (5.000 KL) Pertalite menuju Integrated Terminal Bitung, meskipun antrean panjang dilaporkan masih berlanjut di beberapa SPBU.
Agung Afrizal, Sales Branch Manager (SBM) SulutGo I Fuel Pertamina, mengimbau masyarakat agar tidak panik.
"Kami mengimbau masyarakat, khususnya di Kota Manado, untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tetap menjaga ketertiban dalam melakukan pembelian di SPBU," kata Agung.
Pemerintah Kota Minta Pertamina Selesaikan dalam 2-3 Hari
Wakil Wali Kota Manado, dr. Richard Sualang, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Manado serius merespons keluhan warga dan telah berkoordinasi langsung dengan Pertamina untuk mencari solusi sesegera mungkin.
"Selaku pemerintah, kami mendengar keluhan masyarakat. Karena itu, kami bersama pihak Pertamina berupaya memecahkan permasalahan ini secepatnya," ujar dr. Richard Sualang.
Pemerintah Kota Manado secara resmi meminta Pertamina untuk menuntaskan persoalan antrean BBM dalam rentang waktu dua hingga tiga hari sejak rapat koordinasi digelar pada 15 Oktober 2026. Hingga laporan ini diturunkan, situasi di lapangan dilaporkan belum sepenuhnya normal, meski Pertamina menyatakan pasokan tambahan sedang dalam proses pengiriman dan distribusi ke SPBU-SPBU di Manado.