Iran Bersumpah 'Tanpa Batasan Geografis' Jika AS-Israel Kembali Menyerang

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memerintahkan respons segera tanpa batasan geografis jika AS dan Israel kembali melancarkan serangan.

• MW Media
Published November 1, 2026 • 20.07 WITA
Iran Bersumpah 'Tanpa Batasan Geografis' Jika AS-Israel Kembali Menyerang
Gambar Ilustrasi

Iran Bersumpah 'Tanpa Batasan Geografis' Jika AS dan Israel Kembali Menyerang

TEHERAN — Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada Sabtu, 31 Oktober 2026, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan Israel, menegaskan bahwa Iran akan menentukan sendiri waktu dan kondisi berakhirnya konflik apabila kedua negara tersebut kembali melancarkan serangan militer atau teroris. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang signifikan di Timur Tengah, disertai pergerakan militer AS yang besar di kawasan.

"Jika musuh sekali lagi melancarkan serangan militer atau teroris, Angkatan Bersenjata Republik Islam dan bangsa Iranlah yang akan menentukan waktu dan kondisi bagi akhir mereka."

— Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei

Dalam arahan yang sama, Khamenei memerintahkan angkatan bersenjata Iran untuk memberikan respons yang bersifat langsung dan tidak terbatas secara wilayah terhadap setiap ancaman yang muncul.

"Setiap tingkat atau jenis ancaman harus dihadapi dengan respons yang segera, berdampak, dan tanpa batasan geografis."

— Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei

Khamenei juga menginstruksikan para komandan militer untuk memperbarui daftar target potensial yang mencakup seluruh aset fisik maupun nonfisik milik AS dan Israel.

Sinyal Eskalasi dari Seluruh Jajaran Militer Iran

Peringatan tersebut diikuti oleh serangkaian pernyataan keras dari pejabat militer senior Iran. Juru Bicara Militer Iran Mohammad Akraminia pada Sabtu, 31 Oktober 2026, memperingatkan kemungkinan pecahnya kembali konflik bersenjata jika Presiden AS Donald Trump melanjutkan apa yang ia sebut sebagai "petualangan di kawasan" bersama Israel. Akraminia melanjutkan pernyataannya pada Minggu, 1 November 2026.

"A potential future war could last longer than previous conflict, and the American president would not be in a position to dictate the timing or the conditions of its conclusion."

— Juru Bicara Angkatan Darat Iran Mohammad Akraminia, 1 November 2026

Sementara itu, Wakil Urusan Politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Yadollah Javani, juga menyatakan kesiapan penuh militer Iran pada Minggu, 1 November 2026.

"Militer Iran sepenuhnya siap menghadapi skenario apa pun yang mungkin dirancang oleh musuh."

— Brigadir Jenderal Yadollah Javani, Wakil Urusan Politik IRGC

Javani menambahkan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk menjalankan operasi preventif maupun ofensif. Pernyataan senada disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menegaskan bahwa batas-batas merah sudah tidak relevan lagi.

"Red lines are a thing of the past."

— Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, 31 Oktober 2026

Latar Belakang: Konflik yang Dimulai Kembali Februari 2026

Ketegangan saat ini berakar pada serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei kemudian mengambil alih kepemimpinan pada Maret 2026, dan Iran melancarkan serangan balasan di kawasan.

Meskipun Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026 untuk menghentikan pertempuran — termasuk membahas kebebasan navigasi di Selat Hormuz — ketegangan tidak mereda sepenuhnya. Konflik proksi antara Iran dan Israel sendiri telah berlangsung sejak 1985 sebelum meningkat menjadi konfrontasi langsung pada periode 2024–2026.

Pergerakan Militer AS Picu Kewaspadaan

Kekhawatiran akan konfrontasi baru semakin menguat setelah stasiun televisi Israel KAN melaporkan pada 29 Oktober 2026 bahwa AS telah mengirimkan 10 pesawat kargo militer ke Israel. Selain itu, pesawat militer tambahan dilaporkan dikirim ke pangkalan di Yordania, Arab Saudi, dan Qatar, sementara sistem pertahanan rudal Patriot juga dipindahkan ke kawasan Timur Tengah. Laporan juga mengindikasikan bahwa Presiden Trump tengah mempertimbangkan opsi tindakan militer baru pascapemilihan paruh waktu AS.

Upaya Diplomatik Paralel

Di tengah retorika militer yang memanas, upaya diplomasi tetap berlangsung. Mediator Qatar menggelar pembicaraan di Teheran selama setidaknya 12 jam pada 30 Oktober 2026 sambil menjaga kontak langsung dengan Gedung Putih. Pakistan juga dilaporkan terlibat sebagai pihak mediasi dalam upaya meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington. Namun, prospek keberhasilan diplomasi masih belum jelas seiring derasnya pernyataan konfrontatif dari pihak-pihak yang bersengketa.