xAI Gugat Pengguna Grok atas Dugaan Pembuatan Materi Pelecehan Seksual Anak dengan AI
WICHITA FALLS, Texas — xAI LLC, perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, mengajukan gugatan perdata terhadap Terry Wayne Harwood, 67 tahun, warga Gray Court, South Carolina. Harwood dituduh menyalahgunakan chatbot Grok untuk menghasilkan materi pelecehan seksual anak atau child sexual abuse material (CSAM), serta citra intim non-konsensual atau non-consensual intimate imagery (NCII).
Berdasarkan dokumen perkara yang dirujuk dalam sumber, gugatan itu didaftarkan pada 14 Juli 2026 di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara Texas, Divisi Wichita Falls. Perkara disebut teregistrasi sebagai xAI LLC v. Harwood, No. 26-cv-78, dan berada di hadapan Hakim Reed O’Connor. Rincian administratif seperti nomor perkara, tanggal pendaftaran, dan penugasan hakim sebaiknya tetap diverifikasi kembali melalui CourtListener, PACER, atau berkas pengadilan resmi sebelum publikasi final.
Langkah ini menarik perhatian karena xAI bukan hanya memblokir atau melaporkan pengguna, melainkan membawa dugaan penyalahgunaan produknya sendiri ke pengadilan perdata. Dalam konteks hukum teknologi, gugatan semacam ini dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan AI untuk menunjukkan bahwa mereka menindak pengguna yang mencoba melewati pengamanan platform.
Dugaan Cara Penyalahgunaan Grok
Menurut gugatan, Harwood diduga mengoperasikan dua akun xAI pada periode 8 Desember 2025 hingga 18 Februari 2026 dengan identitas yang disebut tidak benar. Ia dituduh mengunggah foto non-seksual orang dewasa dan anak-anak ke Grok, lalu menggunakan perintah teks tertentu untuk mencoba mengakali sistem keamanan chatbot tersebut.
Dokumen gugatan menyebut salah satu perintah itu berkaitan dengan upaya mengubah foto anak menjadi citra seksual eksplisit. Detail perintah tidak diulang di sini untuk menghindari penyebaran ulang materi atau instruksi yang berpotensi membahayakan. Identitas korban anak juga tidak dipublikasikan demi perlindungan hukum dan keselamatan korban.
“Tindakan Tergugat merupakan skema yang diperhitungkan untuk menjadikan alat Penggugat sebagai senjata untuk tujuan kriminal, memaparkan korban nyata pada kerugian yang mendalam dan berkepanjangan, sekaligus memaparkan Penggugat pada risiko hukum dan kerusakan reputasi yang signifikan,” demikian kutipan gugatan xAI sebagaimana tercantum dalam sumber perkara.
Gugatan itu juga menyebut Harwood telah ditangkap aparat penegak hukum pada Februari 2026 terkait dugaan eksploitasi seksual anak. Status perkara pidananya, termasuk dakwaan resmi, pembelaan, atau putusan jika ada, perlu diverifikasi melalui catatan pengadilan pidana yang relevan.
Dasar Gugatan dan Permintaan xAI
xAI mendasarkan gugatannya pada dugaan pelanggaran Ketentuan Layanan (Terms of Service) dan Kebijakan Penggunaan yang Dapat Diterima (Acceptable Use Policy). Perusahaan juga mengacu pada klausul ganti rugi (indemnification clause) yang, menurut xAI, mewajibkan pengguna menanggung kerugian hukum akibat penyalahgunaan layanan.
Dalam permohonannya, xAI meminta ganti rugi finansial yang nilainya belum disebutkan secara pasti. Perusahaan juga meminta perintah pengadilan permanen agar Harwood dilarang menggunakan Grok atau membuat akun xAI baru.
xAI menyatakan telah menangguhkan 52.222 akun dan mengirimkan 73.604 laporan ke National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) sepanjang 2026. Menurut klaim perusahaan dalam gugatan, laporan-laporan itu berkaitan dengan sedikitnya 244 penangkapan. Angka-angka tersebut merupakan klaim dalam dokumen gugatan dan sebaiknya diverifikasi dengan laporan transparansi xAI atau data NCMEC apabila tersedia.
xAI Juga Menghadapi Tekanan Hukum
Gugatan terhadap Harwood muncul ketika xAI sendiri menghadapi sorotan hukum terkait keamanan Grok. Sejumlah gugatan lain menuduh sistem pengaman Grok tidak cukup kuat untuk mencegah pembuatan deepfake seksual non-konsensual dan CSAM. Tuduhan-tuduhan tersebut masih perlu dilihat sesuai status masing-masing perkara, karena gugatan perdata pada tahap awal belum berarti dalil para penggugat telah terbukti di pengadilan.
Dalam sumber yang dirujuk, disebutkan bahwa pada Maret 2026 tiga remaja perempuan di Tennessee mengajukan gugatan kelompok terhadap xAI di California. Mereka menuduh Grok digunakan untuk membuat CSAM dari foto masa kecil mereka. Pada bulan yang sama, Kota Baltimore juga disebut menggugat xAI terkait dugaan penyebaran NCII dan CSAM melalui Grok. Rincian nomor perkara, dasar hukum, dan perkembangan terbaru kedua gugatan itu perlu diverifikasi langsung melalui dokumen pengadilan.
Di Inggris, anggota Parlemen dari Partai Buruh, Jess Asato, pada 28 Juli 2026 mempublikasikan rincian klaim hukumnya terhadap xAI di Pengadilan Tinggi London. Klaim itu berkaitan dengan dugaan deepfake seksual dirinya yang dihasilkan oleh Grok.
“Tidak ada perempuan atau anak yang seharusnya hidup dengan ketakutan bahwa wajah atau tubuh mereka dapat diambil, diseksualisasi, dan disebarkan ke seluruh dunia oleh sistem AI tanpa persetujuan mereka,” ujar Jess Asato, sebagaimana dikutip dalam laporan The Guardian.
Rangkaian perkara ini menempatkan xAI dalam posisi yang rumit: di satu sisi perusahaan menggugat pengguna yang dituduh menyalahgunakan Grok; di sisi lain, xAI juga menghadapi gugatan yang mempertanyakan efektivitas pengamanan platformnya. Bagi industri AI, perkara-perkara ini menjadi pengingat bahwa isu keselamatan, pelaporan, dan tanggung jawab hukum tidak lagi dapat diperlakukan sebagai urusan teknis semata.