Dampak El Nino, Sungai Menyusut dan Sumur Kering Cekik Pasokan Air Warga Manado
MANADO, Sulawesi Utara — Fenomena iklim El Nino dengan intensitas sangat kuat telah memicu krisis air bersih yang parah di sejumlah wilayah Sulawesi Utara, termasuk di Kelurahan Mahawu dan Bailang, Kota Manado. Debit air sungai di kawasan tersebut mengalami penurunan drastis, sementara sumur-sumur gali milik warga yang menjadi tumpuan utama kebutuhan domestik mulai mengering, per 26 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengategorikan El Nino pada periode Juni–Juli–Agustus 2026 sebagai kejadian dengan intensitas sangat kuat, ditandai anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 sebesar +2,22. Fenomena ini diprediksi bertahan hingga awal 2027. Puncak musim kemarau di berbagai Zona Musim Sulawesi Utara diperkirakan jatuh pada Agustus dan September 2026, dengan durasi musim kemarau antara tiga hingga sembilan bulan.
Respons Pemerintah: Bantuan Air Bersih Mulai Disalurkan
Pada 20 Agustus 2026, Pemerintah Kota Manado melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Wenang Wanua, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Utara berkolaborasi menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 6.000 liter kepada 6 kepala keluarga atau 16 jiwa yang terdampak kekeringan di Kima Atas, Kecamatan Mapanget, Kota Manado.
Langkah distribusi air tersebut disambut dengan desakan dari warga agar pemerintah segera mengambil tindakan jangka panjang.
"Pemerintah harus cepat bertindak. Jangan sampai warga kesulitan air bersih dan baru ditangani ketika kondisinya sudah semakin parah."
— Itan, salah satu warga terdampak di Manado
Tiga hari kemudian, pada 23 Agustus 2026, Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, mengingatkan pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan dalam Rapat Kerja Daerah Pembangunan Pertanian. Data menunjukkan delapan daerah di Sulawesi Utara tengah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) yang panjang.
Krisis Meluas: Pulau Siau Tanpa Air Hampir Tiga Bulan
Krisis air tawar yang parah juga melanda Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Sumur-sumur galian di pulau itu dilaporkan mengering sejak Juni 2026 dan kondisi tersebut berlangsung hampir tiga bulan. Warga terpaksa menghemat setiap tetes air yang tersisa.
"Untuk air hujan yang tersisa di bak penampungan, kami simpan hanya untuk memasak."
— Cherry Paat, ibu rumah tangga di Desa Mini, Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro
Dampak serupa juga dirasakan di daerah lain Indonesia. Direktur Perumda Maren Tual, Hasan Reniwuryaan, menggambarkan betapa besarnya tekanan El Nino terhadap pasokan air bersih perkotaan.
"Oke. Jadi, memang dampak El Nino ini terhadap kondisi kualitas maupun kuantitas air di PDAM Maren Kota Tual ini dia cukup besar terhadap kondisi air di sana. Terutama di musim kemarau ini, ini kan sudah barang tentu terjadi panas kemarau yang panjang. Sementara curah hujan juga kan kita tahu ini berkurang."
— Hasan Reniwuryaan, Direktur Perumda Maren Tual
Apa Itu El Nino dan Dampaknya bagi Indonesia
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan air laut di atas kondisi normal yang terjadi di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik. Bagi Indonesia, dampak fenomena ini meliputi kemarau panjang, suhu udara yang lebih panas dari rata-rata, risiko kekeringan yang meluas, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.
Krisis iklim yang memburuk ini juga dinilai secara tidak proporsional memperberat beban perempuan dalam pengelolaan kebutuhan air rumah tangga, serta mengancam kesehatan dan pendidikan keluarga yang paling rentan. Para ahli dan pegiat lingkungan mengingatkan bahwa tanpa mitigasi serius dan adaptasi jangka panjang, dampak kekeringan berpotensi semakin berat di musim-musim mendatang, mengingat fenomena El Nino saat ini diprediksi masih akan bertahan hingga awal tahun 2027.