Harga Rica di Manado Kian Naik, UMKM Terpaksa Naikkan Harga Nasi Campur

Harga cabai rawit di Pasar Bersehati Manado tembus Rp 110 ribu/kg, memaksa penjual nasi campur naikkan harga hingga Rp 20 ribu per porsi.

MW Media
Published Agustus 27, 2026 • 06.07 WITA
Harga Rica di Manado Kian Naik, UMKM Terpaksa Naikkan Harga Nasi Campur
Gambar Ilustrasi

Harga Rica di Manado Kian Naik, Sejumlah UMKM Terpaksa Naikkan Harga Jual Nasi Campur

MANADO, Sulawesi Utara — Harga cabai rawit atau yang dikenal dengan sebutan rica di Pasar Bersehati, Manado, menyentuh angka Rp 110.000 per kilogram pada Rabu, 26 Agustus 2026. Lonjakan harga tersebut langsung berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya penjual nasi campur, yang terpaksa menaikkan harga jual demi menutup biaya operasional yang terus meningkat.

Harga nasi campur di Manado kini berkisar antara Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per porsi, naik dari sebelumnya Rp 15.000 per porsi. Kenaikan ini menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang sudah tertekan oleh kenaikan harga sejumlah bahan pokok lain, termasuk beras, minyak goreng, dan tahu.

"Harga rica naik terus." — Nur, penjual di Pasar Bersehati

Tren Kenaikan Harga yang Berlangsung Sejak Mei 2026

Kenaikan harga rica di Manado bukan terjadi dalam semalam. Berdasarkan data yang dihimpun, harga cabai rawit tercatat mulai naik sejak Mei 2026 ke level Rp 55.000 per kilogram. Pada bulan yang sama, harga cabai merah keriting bahkan menembus Rp 100.000 per kilogram setelah sempat turun ke Rp 90.000.

Lonjakan lebih tajam terjadi pada Juni 2026, ketika harga cabai rawit melonjak hingga Rp 120.000 per kilogram. Pada periode 20–21 Agustus 2026, harga cabai rawit di Pasar Bersehati tercatat Rp 100.000 per kilogram, naik dari posisi sebelumnya Rp 80.000. Harga tersebut kembali merangkak pada 25 Agustus 2026 ke kisaran Rp 100.000–110.000, sebelum akhirnya menetap di Rp 110.000 pada 26 Agustus 2026.

Sebagai perbandingan, pada tanggal yang sama, cabai rawit asal Makassar dijual dengan harga yang relatif lebih rendah, yakni sekitar Rp 65.000 hingga Rp 70.000 per kilogram di pasar yang sama. Sementara itu, harga cabai merah keriting lokal mencapai Rp 100.000 per kilogram.

El Niño dan Berkurangnya Pasokan Jadi Biang Kerok

Para pedagang di Pasar Bersehati menyebut sejumlah faktor yang mendorong kenaikan harga rica secara berkelanjutan. Fenomena El Niño yang memicu musim kemarau panjang disebut sebagai penyebab utama penurunan produksi cabai di daerah pemasok.

"Kata petani karena El Nino memicu musim kemarau ekstrem dan suhu panas yang tinggi, sehingga pasokan air irigasi berkurang drastis, membuat batang cabai kering, kerdil, bunga rontok, dan buah rusak sebelum dipanen." — Anita, pedagang di Pasar Bersehati

Selain faktor iklim, berkurangnya pasokan cabai dari daerah penghasil utama seperti Gorontalo dan Kotamobagu turut menjadi pendorong kenaikan harga. Tingginya permintaan di pasaran juga disebut sebagai salah satu pemicu yang memperparah ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan.

Pelaku UMKM Terjepit, Konsumen Mulai Berhemat

Bagi penjual makanan di Manado, kenaikan harga rica yang merupakan bumbu utama masakan Sulawesi Utara tidak menyisakan banyak pilihan selain menaikkan harga jual.

"Saya kini naikkan Rp 20 ribu makanan, karena harga sudah naik cukup tinggi." — Ardi, penjual makanan di Manado

"Ya kami terpaksa menaikkan harga karena biaya belanja juga naik." — Anne, pemilik warung nasi campur

Pemilik warung nasi campur di sekitar kawasan Kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado bahkan telah lebih dulu menaikkan harga jual sejak Mei 2026, seiring tren kenaikan harga bahan baku yang terjadi lebih awal.

Di sisi konsumen, kenaikan harga memaksa perubahan perilaku belanja. Sejumlah warga mengaku mengurangi jumlah pembelian cabai untuk menghemat pengeluaran rumah tangga.

"Sekarang beli rica tidak sebanyak dulu, harus hemat." — Iwan, pelanggan

"Memang harga cabai sulit lagi dijangkau. Kalau dibiarkan pasti akan terus melonjak." — Intan, warga/pembeli

Sementara itu, sebagian konsumen yang memahami kondisi pelaku usaha mencoba bersikap maklum terhadap kenaikan harga makanan.

"Ya mau bagaimana, kita juga paham. Kita sama-sama mencari nafkah." — Steven, tukang ojek online

Tekanan Berganda pada Ekonomi Rumah Tangga

Situasi ini dinilai semakin berat mengingat kenaikan harga rica terjadi bersamaan dengan kenaikan harga sejumlah bahan pokok lain yang telah berlangsung sebelumnya. Beras, minyak goreng, dan tahu disebutkan sebagai komoditas yang terlebih dahulu mengalami kenaikan harga, sehingga menambah tekanan ekonomi bagi UMKM maupun masyarakat umum di Manado.

Cabai rawit memiliki peran sentral dalam tradisi kuliner Sulawesi Utara, di mana rica menjadi bumbu wajib dalam hampir setiap masakan sehari-hari. Ketergantungan tinggi terhadap komoditas ini membuat fluktuasi harganya berdampak luas, tidak hanya pada rantai usaha makanan, tetapi juga pada daya beli rumah tangga secara keseluruhan.