Update Korban Gempa NTT: 91 Warga Meninggal Dunia, 161.084 Jiwa Mengungsi
KUPANG, NTT — Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah. Per Minggu, 23 Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 91 jiwa meninggal dunia, 1.286 orang mengalami luka-luka, dan 161.084 jiwa terpaksa mengungsi meninggalkan tempat tinggal mereka.
"Jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya."
"Kami tetap sampaikan belasungkawa duka cita setulus-tulusnya masih bertambah jiwa yang meninggal gempa bumi."
Gempa Dangkal Dipicu Flores Back-Arc Thrust
Gempa utama mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Pusat gempa berada di laut, 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT, pada kedalaman 15 kilometer — tergolong gempa dangkal yang berpotensi menimbulkan kerusakan luas di permukaan.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault)."
NTT secara geologis merupakan wilayah rawan gempa, terletak di zona transisi geodinamika yang rumit di mana Lempeng Samudra Indo-Australia menyusup di bawah Lempeng Eurasia, dengan struktur patahan naik busur belakang (Flores Back-Arc Thrust) di perairan utara Flores.
Tsunami Kecil Terdeteksi, Peringatan Dicabut Pagi Hari
Sesaat setelah gempa, pada pukul 05.00 WIB, BMKG menerbitkan Peringatan Dini Tsunami. Antara pukul 05.16 hingga 05.58 WIB, tsunami kecil terdeteksi di sejumlah titik pesisir, termasuk Kewapante (Sikka), Labuan Bajo, Bulukumba, dan Bau-Bau. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat 0,94 meter di Maurole, Kabupaten Ende. Peringatan dini tsunami kemudian dicabut pada pukul 07.30 WIB.
"Mengingat tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan, maka PERINGATAN DINI TSUNAMI DINYATAKAN BERAKHIR pada pukul 07.30 WIB."
5.688 Gempa Susulan, 130 Dirasakan dalam Sehari
Hingga 23 Agustus 2026, telah terjadi 5.688 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1. Pada hari tersebut saja, tercatat 130 gempa susulan dirasakan oleh warga. BNPB memperkirakan aktivitas gempa susulan akan berlangsung sekitar 3–4 minggu sejak gempa utama.
"Gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar 3-4 minggu sejak gempa utama."
Sebaran Korban: Manggarai dan Manggarai Timur Paling Terdampak
Dari 91 korban meninggal, Kabupaten Manggarai mencatat jumlah tertinggi dengan 32 jiwa, disusul Manggarai Timur (31 jiwa), Nagekeo (14 jiwa), Sikka (6 jiwa), Ngada (5 jiwa), Ende (2 jiwa), dan Manggarai Barat (1 jiwa). Berdasarkan jenis kelamin, 48 korban meninggal berjenis kelamin perempuan, 40 laki-laki, dan 3 belum teridentifikasi.
Ditinjau dari kelompok usia, korban meninggal terdiri dari 39 lansia, 35 dewasa, 12 anak-anak dan remaja, 4 batita, dan 1 balita — menunjukkan besarnya dampak terhadap kelompok paling rentan.
Sementara itu, korban luka-luka terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai Timur (643 orang) dan Manggarai Barat (504 orang). BNPB juga mencatat bahwa 51 persen korban meninggal disebabkan dampak langsung gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan 49 persen lainnya meninggal akibat dampak tidak langsung, termasuk penyakit bawaan.
"51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa seperti tertimpa reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya 49 persen meninggal disebabkan dampak tidak langsung."
Kerusakan Infrastruktur Skala Besar
Gempa menimbulkan kerusakan infrastruktur yang masif. Tercatat 38.898 unit rumah terdampak, dengan rincian 14.735 rusak berat, 9.178 rusak sedang, dan 14.985 rusak ringan. Selain itu, 502 fasilitas pendidikan, 244 fasilitas kesehatan, 220 rumah ibadah, 294 kantor pemerintahan, 31 fasilitas umum, 45 ruas jalan, 16 jembatan, 10 fasilitas irigasi, 1 gudang Bulog, dan 1 pasar turut mengalami kerusakan.
Kebutuhan Perempuan dan Anak Belum Terpenuhi
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyoroti kondisi kelompok rentan di lokasi pengungsian. Ia berencana mengirimkan bantuan khusus menggunakan pesawat Hercules pada Senin, 24 Agustus 2026.
"Kebutuhan khusus perempuan dan anak korban gempa di Nusa Tenggara Timur belum sepenuhnya terpenuhi."
Presiden Prabowo Dijadwalkan Kunjungi Lokasi Terdampak
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi pada Minggu, 23 Agustus 2026, memastikan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan mengunjungi lokasi terdampak gempa dalam waktu dekat.
"Sedang dipersiapkan dalam waktu dekat, Insyaallah akan ke sana."
Upaya penanganan darurat oleh BNPB dan kementerian terkait terus berlangsung, meski ribuan warga masih enggan kembali ke rumah mereka akibat ancaman gempa susulan yang tak kunjung berhenti.