Tanah Longsor di TPA Ibu Kota Guinea Tewaskan 30 Orang

Tumpukan sampah runtuh menimpa permukiman warga di Conakry saat TPA Dar Es Salam dijadwalkan tutup hari yang sama.

MW Media
Published Agustus 24, 2026 • 12.07 WITA
Tanah Longsor di TPA Ibu Kota Guinea Tewaskan 30 Orang
Gambar Ilustrasi

Tanah Longsor di Tumpukan Sampah Ibu Kota Guinea Tewaskan Sedikitnya 30 Orang

CONAKRY, Guinea — Sedikitnya 30 orang tewas setelah tumpukan sampah raksasa di tempat pembuangan akhir (TPA) Dar Es Salam runtuh dan menimbun gubuk-gubuk serta rumah warga yang tinggal di sekitarnya, pada Minggu, 23 Agustus 2026, dini hari. Bencana itu terjadi di ibu kota Guinea, Conakry, dan dipicu oleh hujan deras yang mulai mengguyur kawasan tersebut sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Selain korban jiwa, enam orang dilaporkan mengalami luka serius dan 16 lainnya menderita luka ringan. Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung, dengan ekskavator dikerahkan untuk menyingkirkan puing-puing dan tumpukan sampah guna menjangkau para korban yang diduga masih tertimbun.

"Kami telah mengeluarkan 18 jenazah yang dibawa ke kamar mayat."

Lancine Sylla, Kepala Pinggiran Kota Dar-es-Salaam

TPA Dijadwalkan Tutup pada Hari yang Sama

Ironi tragis mewarnai bencana ini: TPA Dar Es Salam — yang merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Conakry — sejatinya telah dijadwalkan untuk ditutup secara resmi pada hari Minggu itu juga, tepat saat longsor terjadi. Pemerintah Guinea bahkan telah mengeluarkan surat perintah penggusuran kepada warga yang bermukim di sekitar lokasi. Namun, banyak dari mereka masih berada di tempat ketika bencana menerjang.

Hanya tiga hari sebelum insiden, pada Kamis, 20 Agustus 2026, Menteri Administrasi Wilayah Guinea, Djénabou Touré Camara, telah mengumumkan bahwa pemerintah akan menutup TPA tersebut atas alasan keamanan dan merelokasi limbah yang ada — khususnya mengingat tingginya risiko selama musim hujan.

"Tragedi ini semakin memprihatinkan karena penutupan tempat pembuangan sampah tersebut sebenarnya telah dijadwalkan pada hari Minggu ini, 23 Agustus."

Cellou Dalein Diallo, Mantan Perdana Menteri dan Tokoh Oposisi Guinea

Duka Mendalam di Antara Para Penyintas

Bencana ini meninggalkan luka mendalam bagi banyak keluarga. Cire Diallo, seorang wanita yang kehilangan kelima anaknya dalam tragedi tersebut, mengungkapkan kesedihannya kepada media.

"Saya telah kehilangan semua anak saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah mempercayakan diri kepada Tuhan."

Cire Diallo, warga yang kehilangan lima anaknya

Respons Pemerintah

Perdana Menteri Guinea, Amadou Oury Bah, mengunjungi langsung lokasi kejadian pada hari yang sama untuk menilai kerusakan dan mengawasi jalannya operasi tanggap darurat. Menteri Administrasi Wilayah dan Desentralisasi, Dienabou Touré, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memastikan keselamatan warga yang tersisa.

"Kami akan memastikan keluarga-keluarga yang tersisa direlokasi ke tempat lain."

Dienabou Touré, Menteri Administrasi Wilayah dan Desentralisasi Guinea

Konteks: Kemiskinan dan Infrastruktur Rapuh

Tragedi di Conakry mencerminkan persoalan struktural yang lebih dalam di Guinea. Meski negara ini dikenal sebagai salah satu produsen utama bauksit, bijih besi, emas, dan berlian di dunia, kekayaan mineral tersebut belum mampu mengangkat taraf hidup sebagian besar rakyatnya. Menurut laporan Bank Dunia yang diterbitkan pada bulan April, sebanyak 3,7 juta dari total 15,1 juta penduduk Guinea hidup dengan pengeluaran kurang dari 4,20 dolar AS per hari.

Infrastruktur yang buruk dan padatnya permukiman informal di sekitar fasilitas berbahaya — seperti TPA — membuat warga miskin perkotaan menjadi kelompok paling rentan ketika musim hujan tiba. Di wilayah Afrika Barat, musim hujan secara rutin memicu tanah longsor dan banjir bandang yang mematikan, terutama di kota-kota besar dengan kapasitas tata kota yang terbatas.

Operasi pencarian dan penyelamatan dilaporkan masih terus berlanjut saat berita ini diturunkan, sementara jumlah korban berpotensi bertambah seiring evakuasi yang sedang berjalan.