Penyelamatan 10 Hari di Nepal: Pekerja Ditarik Hidup dari Terowongan

Tiga orang diselamatkan hidup-hidup dari terowongan dan reruntuhan lumpur, 10 hari setelah banjir bandang Nepal-China menewaskan 1.300 orang.

MW Media
Published September 6, 2026 • 12.03 WITA
Penyelamatan 10 Hari di Nepal: Pekerja Ditarik Hidup dari Terowongan
Gambar Ilustrasi

Penyelamatan Berlanjut di Nepal 10 Hari Setelah Banjir Dahsyat, Lebih Banyak Pekerja Ditarik Hidup-hidup dari Terowongan

KATHMANDU, 5 September 2026 — Tiga orang berhasil diselamatkan hidup-hidup pada 4 dan 5 September 2026 dari terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan reruntuhan lumpur di Nepal, memberikan secercah harapan di tengah bencana banjir bandang terdahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal-China sejak 26 Agustus 2026. Hingga kini, lebih dari 1.287 hingga 1.300 orang dinyatakan tewas di Nepal dan lebih dari 5.000 orang masih hilang.

Tiga Penyelamatan Dramatis Setelah 9–10 Hari Terjebak

Pada 4 September 2026, sembilan hari setelah bencana, dua pekerja Nepal berhasil dievakuasi hidup-hidup dari terowongan Proyek PLTA Upper Trishuli-3A di distrik Rasuwa. Mereka adalah Sanjay Sah, mandor mekanik, dan Kabir Maharjan, pengawas mekanik. Seorang pejabat militer setempat mengonfirmasi kondisi keduanya relatif stabil.

"Namanya Sanjay Sah dan dia bekerja di ruang kendali mekanik. Parameter vitalnya tampak normal." — Seorang pejabat militer setempat

Sah, yang bertahan dengan melantunkan mantra selama terjebak, mengungkapkan pergulatan batinnya selama penyelamatan berlangsung.

"Melantunkan mantra untuk memberi diri saya harapan." — Sanjay Sah

"Tugas utama saya adalah untuk melindungi nyawa semua orang, tetapi saya sendiri tidak mendapat kesempatan untuk menyelamatkan diri." — Sanjay Sah

Kabar penyelamatan tersebut disambut haru oleh keluarga dan rekan-rekan korban.

"Saya sangat, sangat bahagia, saya telah menunggu kabar ini. Ini memberi harapan bahwa yang lain juga akan berhasil diselamatkan hidup-hidup." — Suresh Chaudhari, rekan kerja Sanjay Sah

"Sangat bahagia. Hati saya terasa lebih lega. Seluruh keluarga sangat bahagia." — Amir Maharjan, saudara kandung Kabir Maharjan

Sehari kemudian, pada 5 September 2026, hari kesepuluh pasca-bencana, seorang warga negara China bernama Luhaitao diselamatkan hidup-hidup dari terowongan Proyek PLTA Upper Trishuli-1, juga di distrik Rasuwa. Militer Nepal menyatakan kondisinya sedang dievaluasi.

"Kesehatannya saat ini sedang dinilai dan operasi pencarian dan penyelamatan lainnya terus berlanjut." — Pernyataan militer Nepal

Masih pada 5 September, seorang wanita Nepal berusia 64 tahun, Chandrika Shrestha, ditemukan selamat oleh tim polisi di dalam rumahnya yang tertimbun lumpur di distrik Nuwakot. Ia kemudian diterbangkan ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan medis.

"Tim polisi menemukannya saat mereka membersihkan area tersebut. Dia telah diterbangkan ke Kathmandu untuk perawatan." — Iqbal Hawari, wakil kepala polisi

Bencana Dipicu Runtuhnya Gletser Langtang Lirung

Bencana ini bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026, ketika sebagian gletser di puncak Langtang Lirung di Taman Nasional Langtang, Himalaya, runtuh secara tiba-tiba. Longsoran masif berisi es, batu, dan lumpur tersebut memicu aliran puing-puing dahsyat di sepanjang Sungai Trishuli, menghancurkan puluhan permukiman dan infrastruktur vital di wilayah perbatasan Nepal dan Daerah Otonom Tibet, China.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyebut peristiwa ini sebagai "bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan dahsyat."

Dampak kerusakan meluas ke 41 jembatan, fasilitas kesehatan, dan sekolah, dengan total hampir 1,6 juta orang terdampak. Di sisi China, setidaknya 21 hingga 31 orang tewas dan 541 hingga 558 orang dilaporkan hilang di Daerah Otonom Tibet. Ratusan warga negara asing, termasuk pendaki dan peziarah, juga termasuk di antara korban hilang.

Sekitar 900 Pekerja PLTA Masih Terjebak

Salah satu tantangan terbesar operasi penyelamatan adalah kondisi sekitar 900 pekerja yang diyakini masih terjebak di dalam jaringan terowongan berbagai proyek PLTA di sepanjang Sungai Trishuli. Juru bicara militer Nepal, Raja Ram Basnet, menggambarkan betapa sulitnya medan operasi.

"Tumpukan puing dalam jumlah besar telah mengendap dan itu memberi kami tantangan besar untuk membuka terowongan." — Raja Ram Basnet, juru bicara militer Nepal

Kondisi di dalam terowongan dilaporkan sangat berat. Ashish Gurung, seorang pemandu wisata yang menjadi relawan penyelamat, menggambarkan situasinya.

"Hanya ada lumpur di mana-mana. Di dalam terowongan kondisinya lebih buruk. Sangat sulit untuk bergerak." — Ashish Gurung, pemandu wisata relawan penyelamat

Operasi penyelamatan melibatkan Angkatan Darat Nepal, ahli asing termasuk dari Korea Selatan, penggunaan bahan peledak terkontrol, ekskavator, dan peralatan pemompaan. Pakar pembangunan terowongan Arnold Dix menjelaskan risiko penggunaan bahan peledak dalam situasi ini.

"Kami harus menggunakan bahan peledak yang biasanya tidak pernah kami lakukan karena risiko meledakkan orang-orang [yang terjebak di dalam terowongan] dan juga membahayakan diri kami sendiri." — Arnold Dix, pakar pembangunan terowongan

Nepal Akhirnya Izinkan Bantuan Asing Terbatas

Pemerintah Nepal awalnya menolak bantuan asing untuk operasi pencarian dan penyelamatan, sebuah sikap yang diumumkan pada 28 Agustus 2026. Namun, pada 29 Agustus, Nepal berbalik arah setelah menghadapi tekanan internasional yang besar, terutama karena ratusan warga negara asing turut tercatat hilang.

"Kami menerima tekanan besar dari komunitas internasional untuk mengizinkan setidaknya tim pencarian dan penyelamatan serta sejumlah ahli, karena warga negara mereka juga ada yang hilang akibat banjir. Kami mengizinkan sejumlah ahli secara terbatas di wilayah-wilayah tertentu." — Seorang pejabat senior pemerintah Nepal

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menambahkan bahwa para pakar asing juga akan membantu mengidentifikasi jenazah agar dapat segera diserahkan kepada keluarga korban.

"Para pakar asing akan membantu tim penyelamat setempat dalam mengidentifikasi jenazah agar pihak berwenang dapat menyerahkannya kembali kepada keluarga dengan segera." — Shisir Khanal, Menteri Luar Negeri Nepal

Sorotan Kerentanan Himalaya dan Kegagalan Sistem Peringatan Dini

Bencana ini kembali menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim, khususnya risiko banjir gletser atau Glacial Lake Outburst Flood (GLOF). Para ahli juga mengkritik sistem peringatan resmi Nepal yang dinilai tidak efektif, sementara sistem peringatan berbasis komunitas terbukti lebih andal dalam memberikan respons awal kepada warga.

Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlanjut di tengah kondisi medan yang berat, dengan angka korban yang diperkirakan masih akan terus berkembang seiring berjalannya pembersihan puing-puing di sepanjang lembah Trishuli.