Korban Banjir Nepal-Tibet Lampaui 1.000, Ribuan Masih Hilang

Banjir bandang akibat runtuhnya gletser Himalaya menewaskan lebih dari 1.000 orang, dengan 4.400 lebih masih dinyatakan hilang.

MW Media
Published September 1, 2026 • 17.22 WITA
Korban Banjir Nepal-Tibet Lampaui 1.000, Ribuan Masih Hilang
Gambar Ilustrasi

Korban Tewas Akibat Banjir dan Tanah Longsor di Nepal-Tibet Melebihi 1.000, Ribuan Hilang

KATHMANDU, 1 September 2026 — Jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus 2026 telah melampaui 1.000 jiwa, sementara lebih dari 4.400 orang masih dinyatakan hilang. Bencana yang dipicu oleh runtuhnya gletser di Pegunungan Himalaya ini tercatat sebagai salah satu tragedi alam terburuk dalam sejarah kawasan tersebut.

Per 1 September 2026, sebanyak 987 kematian dilaporkan di Nepal dan 16 di Tibet, wilayah otonomi China. Di Nepal, 3.916 orang masih hilang, sementara 546 lainnya dilaporkan hilang di sisi Tibet. Sedikitnya 583 warga negara asing termasuk dalam daftar hilang di Nepal. Selain itu, 1.473 orang dinyatakan terluka dan 11.814 orang berhasil diselamatkan di Nepal. Total lebih dari 93.000 orang diperkirakan terdampak bencana ini, termasuk sekitar 22.100 anak-anak.

Runtuhnya Gletser Puncak Lirung Jadi Pemicu

Bencana ini diyakini dipicu oleh runtuhnya gletser dari lereng selatan Puncak Lirung di Nepal, yang menghasilkan gelombang air dan puing-puing berkekuatan besar. Peristiwa geologi tersebut tercatat menghasilkan sinyal seismik setara magnitudo 5,2. Gelombang destruktif itu menghancurkan desa-desa dan infrastruktur vital, termasuk pembangkit listrik tenaga air, jalan, dan jembatan di sepanjang jalur aliran sungai.

Daerah yang paling parah terdampak di Nepal meliputi Distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Tanahun, serta Gyirong County di sisi Tibet. Pos pemeriksaan perbatasan Gyirong dilaporkan hancur total pada hari pertama kejadian.

"Kami masih terus berada dalam mode pencarian dan penyelamatan. Namun, medannya sangat menantang, terutama di area Rasuwa yang menjadi ground zero dan saat ini benar-benar terisolasi."

— Sumnima Udas, anggota Parlemen Nepal

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menggambarkan bencana ini sebagai "bencana alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menghancurkan" serta menyatakan sulitnya menyusun penilaian lengkap atas seluruh kerusakan yang terjadi.

Dimensi Lintas Batas: India Juga Terdampak

Dampak bencana tidak hanya dirasakan di Nepal dan Tibet. Di India, 17 jenazah yang diduga merupakan korban banjir ditemukan di sungai-sungai yang terhubung secara hidrologi dengan sungai-sungai di Nepal, menggarisbawahi skala lintas batas dari tragedi ini.

Media pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa banjir tersebut "disebabkan oleh ketidakstabilan gletser di bawah efek jangka panjang pemanasan global" dan menyebutnya sebagai "fitur baru dan menonjol dari bencana kriosfer" di dataran tinggi Tibet.

"The sudden glacial collapse and flash flood is a devastating reminder of how fragile these mountain environments can be."

— Simon Stiell, Kepala Iklim PBB

Fokus Penyelamatan: Pekerja Terjebak di Terowongan

Upaya penyelamatan difokuskan pada pencarian ratusan pekerja pembangkit listrik tenaga air yang diyakini terjebak di dalam terowongan. Nepal telah meminta bantuan asing untuk operasi penyelamatan di terowongan tersebut. Topografi pegunungan yang ekstrem menjadi hambatan utama bagi tim penyelamat yang berusaha menjangkau lokasi-lokasi terisolasi.

Kamar Mayat Kewalahan, Penguburan Massal Dilakukan

Kondisi di lapangan semakin memprihatinkan seiring meningkatnya jumlah jenazah yang ditemukan. Fasilitas kamar mayat di Nepal dilaporkan kewalahan, memaksa pihak berwenang melakukan penguburan massal bagi ratusan korban yang tidak teridentifikasi.

"Banyak jenazah yang ditemukan dalam kondisi termutilasi, sebagian, atau terpotong-potong, membuat identifikasi visual menjadi sangat sulit."

— Wakil Inspektur Jenderal Abi Narayan Kafle, juru bicara Kepolisian Nepal

Merespons kesulitan identifikasi tersebut, Kepolisian Nepal mengeluarkan imbauan kepada keluarga korban untuk menyerahkan sampel DNA guna membantu proses identifikasi jenazah.

"Orangtua dan anak dari korban hilang diimbau menyerahkan sampel DNA kepada Kepolisian Nepal. Bagi keluarga asing di luar negeri, kami minta melakukan profil DNA di negara masing-masing lalu mengirimkan hasilnya via surat elektronik."

— Kepolisian Nepal

Kronologi Eskalasi Korban

Bencana ini berkembang dengan cepat sejak hari pertama kejadian. Pada 27 Agustus 2026, laporan awal menyebut sekitar 160 hingga 360 orang tewas dengan lebih dari 1.000 hilang. Angka tersebut melonjak menjadi 579 tewas dan lebih dari 2.400 hilang pada 29 Agustus, kemudian melampaui 750 tewas dan 3.000 hilang pada 30 Agustus. Pada 31 Agustus, korban tewas telah melampaui 900 dengan lebih dari 4.700 dilaporkan hilang, sebelum akhirnya angka kematian gabungan melewati 1.000 jiwa pada 1 September 2026.

Bencana ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim, khususnya ketidakstabilan gletser yang semakin mengkhawatirkan di tengah tren pemanasan global yang terus meningkat.