Kabut Asap Karhutla Makin Parah, 147 Penerbangan Terdampak

Kabut asap Karhutla ganggu penerbangan di Kalimantan dan Sumatra. September disebut puncak El Niño, lebih dari 10 juta orang terdampak.

MW Media
Published September 1, 2026 • 18.03 WITA
Kabut Asap Karhutla Makin Parah, 147 Penerbangan Terdampak
Gambar Ilustrasi

Kabut Asap Karhutla di Kalimantan dan Sumatra Makin Parah, Ratusan Penerbangan Terganggu di Tengah Ancaman Puncak El Niño

JAKARTA, 1 September 2026 — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatra terus memburuk, mengganggu operasional penerbangan di sejumlah bandara, mengancam kesehatan lebih dari 10 juta jiwa, dan memicu peringatan keras dari pemerintah menjelang puncak El Niño yang diprediksi terjadi sepanjang September 2026.

Data Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan menunjukkan bahwa dalam periode 24 hingga 30 Agustus 2026, sebanyak 147 penerbangan terdampak asap Karhutla di wilayah kerjanya. Dari jumlah tersebut, 95 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan, sementara enam lainnya dialihkan rutenya. Dampak paling signifikan tercatat di Kalimantan Tengah dengan 88 penerbangan terdampak.

Jarak Pandang Kritis di Berbagai Bandara

Pada 1 September 2026, Bandara Kalimarau di Berau, Kalimantan Timur, mencatat penurunan jarak pandang hingga 500 meter, menyebabkan sejumlah maskapai mengalami keterlambatan.

"Kondisi di Bandara Kalimarau pada tanggal 1 September 2026 siang ini terdampak asap, di mana penurunan jarak pandang antara 1.800-500 meter."

— Patah Atabri, Kepala Kantor BLU Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Kalimarau

"Hari ini ada beberapa maskapai yang terdampak sehingga menyebabkan delay."

— Patah Atabri, Kepala Kantor BLU UPBU Kelas I Kalimarau

Kondisi serupa terjadi di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang, di mana penerbangan pada 31 Agustus 2026 mengalami keterlambatan hingga satu jam akibat jarak pandang yang terhalang kabut asap.

"Untuk penerbangan pagi memang ada delay karena jarak pandang yang terhalang kabut asap. Kurang lebih sekitar satu jam."

— Yona Wahyuni Kemala, Palembang Branch Manager Garuda Indonesia

Kondisi paling ekstrem tercatat di Bandara Long Apung, Kalimantan Utara, dengan jarak pandang hanya 100 meter — jauh di bawah batas aman untuk lepas landas dan pendaratan. Pada 18 hingga 21 Agustus 2026, Bandara Supadio Pontianak juga mencatat sedikitnya 21 penerbangan mengalami keterlambatan, dan gangguan serupa kembali terjadi pada 31 Agustus 2026.

"Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dan tidak dapat dikompromikan dalam setiap pengambilan keputusan operasional."

— Ferdinan Nurdin, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyatakan gangguan telah terasa sejak pertengahan Agustus 2026, meski sejauh ini masih terlokalisir.

"Dampaknya sudah mulai terasa, terutama ketika visibility turun di bawah batas aman untuk lepas landas dan mendarat. Namun, sejauh ini gangguannya masih terlokalisir di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan sebagian Papua."

— Bayu Sutanto, Sekretaris Jenderal INACA

Lebih dari 10 Juta Orang Terdampak, Kualitas Udara Berbahaya

Kementerian Kesehatan mencatat hingga 27 Agustus 2026, kabut asap Karhutla telah berdampak pada lebih dari 10 juta orang di tujuh provinsi di Kalimantan dan Sumatra, dengan lebih dari 13 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dilaporkan. Gangguan kesehatan lain yang timbul meliputi batuk, sesak napas, serta iritasi mata dan kulit.

Per 31 Agustus 2026, tujuh kabupaten dan kota di Kalimantan dilaporkan terpapar kualitas udara pada kategori berbahaya. Data BPBD Kalimantan Timur menyebutkan sebanyak 61 kejadian Karhutla terjadi di Berau hingga 30 Agustus 2026, membakar 429,44 hektare lahan dan hutan.

September: Puncak El Niño dan "Bulan Perjuangan"

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperingatkan bahwa September 2026 merupakan periode paling kritis dalam penanggulangan Karhutla tahun ini, bertepatan dengan puncak El Niño. El Niño diprediksi dapat mencapai kategori extremely strong dengan probabilitas 75 persen antara Agustus dan Oktober 2026.

"September adalah puncak El Nino. Apabila sekali lagi trennya menurun, harus kita pertahankan. Tetapi waspada."

— Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan

"Ini menurun sekali lagi kontribusi demikian banyak faktor. Tadi di darat teman-teman bekerja keras, OMC bergerak, water bombing bergerak, kira-kira demikian. Tapi dari segi nature-nya, kita belum keluar dari ancaman El Nino ini. Karhutla masa El Nino ini belum sama sekali, kita belum aman. Saya katakan tadi September ini adalah bulan perjuangan, ladang perjuangan kita."

— Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan

Sebagai latar belakang, luas lahan terbakar pada Februari 2026 telah mencapai 32.637 hektare — 20 kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Maret 2026, Pantau Gambut mengidentifikasi 12.942 titik panas di ekosistem gambut, dan selama 1 hingga 21 Agustus 2026, BMKG mencatat 11.869 titik panas di Kalimantan Timur saja.

Titik Api Tinggi di Kalimantan, Sumatra Mulai Menurun

BNPB melaporkan per 31 Agustus 2026 bahwa titik api di Kalimantan masih bertambah, khususnya di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sementara itu, di Sumatra — meliputi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan — tren titik api menunjukkan penurunan pada akhir Agustus 2026.

"Ini yang di Kalimantan, titik api maupun titik panas itu sangat banyak kita temukan dan bertambah maupun berkurang, itu relatif. Besok bisa juga bertambah lagi atau berkurang. Jadi kami tetap melakukan upaya-upaya maksimum baik melalui satgas darat ataupun satgas udara."

— Berton SP Panjaitan, Plt. Kapusdatin BNPB

72 Tersangka Ditetapkan, Modus Bakar Lahan untuk Hemat Biaya

Aparat kepolisian telah mengambil langkah penegakan hukum. Hingga 24 Agustus 2026, sebanyak 72 orang ditetapkan sebagai tersangka dari 89 laporan polisi terkait Karhutla yang ditangani di sembilan wilayah hukum Polda. Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri mengungkap modus yang mendominasi kasus-kasus tersebut.

"Rata-rata modus operandi pada sembilan Polda tersebut, sebagian besar digunakan oleh para tersangka adalah membuka lahan dengan cara sengaja membakar agar biaya operasional kegiatan berkebun menjadi murah atau ekonomis."

— Brigjen Pol. Moh. Irhamni, Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri

Pemerintah Kerahkan Puluhan Helikopter dan Operasi Modifikasi Cuaca

Sebagai respons, pemerintah mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Puluhan helikopter dikerahkan untuk operasi water bombing dan patroli udara, sementara ribuan personel gabungan berjaga 24 jam di titik-titik rawan di darat.

"Sampai saat ini, beberapa saudara kita di wilayah Kalimantan dan Sumatera dalam kondisi menghadapi kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara. Operasi udara melibatkan puluhan helikopter dan pesawat yang dikerahkan untuk water-bombing dan modifikasi cuaca, sedangkan operasi darat didukung ribuan personel gabungan yang siaga 24 jam di titik-titik rawan."

— Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH

Pemerintah dan otoritas terkait menegaskan kewaspadaan penuh akan terus dipertahankan sepanjang September 2026, mengingat kondisi iklim yang belum berpihak dan tingginya risiko eskalasi Karhutla di tengah puncak musim kering El Niño.