Kasus ISPA Meningkat di Kalimantan dan Sumatera Imbas Kabut Asap Karhutla, Prabowo Dorong 'Ubi Bombing'
JAKARTA, 25 Agustus 2026 — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Kalimantan dan Sumatera menyusul pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas. Per 21 Agustus 2026, lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota di tujuh provinsi tercatat terpapar langsung kabut asap karhutla.
Tujuh provinsi terdampak meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Enam dari tujuh provinsi tersebut telah menetapkan status siaga darurat bencana akibat kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026, diperparah oleh fenomena El Niño yang mempercepat penyebaran titik api dan memperpanjang musim kering.
Lonjakan Kasus ISPA yang Dramatis
Kalimantan Tengah mencatat kondisi paling kritis. Kasus ISPA di provinsi itu melonjak 66 persen pada periode Juli hingga minggu kedua Agustus 2026, mencapai 16.356 kasus. Dalam rentang satu pekan saja, lonjakan bahkan lebih tajam, yakni 78,1 persen — dari 402 menjadi 716 kasus.
"Dampak kabut asap terhadap kasus penyakit meningkat signifikan. Kalimantan Tengah, kasus ISPA melonjak 66 persen pada periode Juli hingga minggu kedua Agustus mencapai 16.356 kasus, dengan kualifikasi udara sangat tidak sehat di dua kabupaten/kota."
— Widyawati, Juru Bicara Kemenkes
Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151.000 kasus ISPA sejak Januari 2026, dengan kenaikan tertinggi terpusat di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Di Riau, data per 21 Agustus 2026 mencatat 1.948 kasus ISPA, 43 kasus asma, 36 iritasi kulit, dan 16 kasus konjungtivitis.
"Kualitas udara yang buruk telah menyebabkan lonjakan kasus penyakit pernapasan."
— Hary Agung Tjahyadi, Direktur RSUD Dr. Soedarso di Pontianak
Kualitas udara di sejumlah wilayah mencapai level berbahaya. Pada 19 Agustus 2026, konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, tercatat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik — jauh melampaui ambang batas "berbahaya" yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Respons Kemenkes: Tenaga Kesehatan dan Logistik Dikerahkan
Sebagai respons, Kemenkes mengerahkan 314 tenaga kesehatan — terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog — dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
"Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan."
— Agus Jamaludin, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes
Kemenkes juga mendistribusikan logistik kesehatan, antara lain 278.940 unit masker, 56 unit konsentrator oksigen, 36 tabung Oxycan, obat-obatan, vitamin, dan makanan tambahan. Pemerintah turut menyiagakan ruang oksigen dan ruang aman asap di puskesmas-puskesmas yang berada di zona merah, termasuk di Palangka Raya, Barito Utara, Ketapang, dan Kubu Raya.
Pengerahan Militer dan Strategi Pemadaman
Presiden Prabowo Subianto pada 22 Agustus 2026 mengunjungi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk memantau langsung penanganan karhutla, sekaligus memerintahkan pengerahan 1.200 personel TNI dari tiga batalyon serta helikopter water bombing guna mempercepat upaya pemadaman di Kalimantan.
"Mari kita berupaya untuk segera memadamkan 1.900 hektar yang saat ini terbakar."
— Presiden Prabowo Subianto
Pada 24 Agustus 2026, Presiden Prabowo memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan. Dalam forum tersebut, ia mengajukan pertanyaan yang memantik diskusi inovatif:
"Apakah ada zat kimia yang lebih efektif daripada air untuk memadamkan api?"
— Presiden Prabowo Subianto
Prabowo kemudian mengusulkan pengembangan bahan pemadam api berbasis tepung umbi-umbian, termasuk singkong, sebagai alternatif water bombing. Konsep ini secara bercanda disebutnya sebagai "ubi bombing".
"Intinya bisa menekan api. Ini sangat menarik. Bahan bakunya umbi-umbian, termasuk singkong. Coba produksi secara besar-besaran."
— Presiden Prabowo Subianto
Presiden juga menginstruksikan TNI untuk menyiapkan tim khusus yang disebut "Team Alfa" guna menjangkau lokasi karhutla yang sulit diakses di Sumatera Selatan.
"Saya ingin bertanya kepada Panglima TNI, bisakah kita melakukan uji coba pengerahan Tim Alfa di sini juga?"
— Presiden Prabowo Subianto
Skala Kerusakan dan Dampak Lintas Batas
Platform pemantauan hutan Nusantara Atlas memperkirakan sekitar 285.000 hektar lahan telah terbakar sepanjang tahun ini — setara dengan tiga kali luas wilayah Jakarta. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi puncak risiko karhutla akan berlangsung antara Agustus dan September 2026.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat 3.764 kasus gangguan pernapasan, terutama di wilayah Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan.
Seruan Penguatan Sistem Pencegahan
Di tengah eskalasi bencana, Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya menekankan pentingnya penguatan sistem pencegahan jangka panjang.
"Sistem pencegahan harus diperkuat. Ini termasuk pengeboran sumur dan waduk, pemantauan permanen, deteksi dini titik api, dan persiapan di desa-desa rawan kebakaran hutan. Pencegahan harus dilakukan jauh sebelum kebakaran terjadi."
— Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet
Indonesia secara rutin menghadapi persoalan karhutla selama musim kemarau, khususnya di Kalimantan dan Sumatera. Namun dampaknya pada 2026 dinilai jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan pengaruh El Niño yang memperparah kekeringan dan memperluas sebaran titik api.