Harga Cabai Rawit di Manado Meroket Tembus Rp 150.000 Per Kilogram Akibat Kemarau Panjang
MANADO, Sulawesi Utara — Harga cabai rawit di Pasar Bersehati, Kota Manado, Sulawesi Utara, meroket hingga Rp 150.000 per kilogram pada 31 Agustus 2026, didorong oleh kemarau panjang yang telah melanda wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya selama sekitar tiga bulan terakhir. Lonjakan harga ini memukul daya beli warga yang mengandalkan cabai sebagai bumbu dapur utama dalam masakan sehari-hari.
Harga Berbeda Berdasarkan Asal Daerah
Di Pasar Bersehati, harga cabai rawit terpantau bervariasi bergantung pada daerah asalnya. Cabai rawit asal Gorontalo dijual pada harga tertinggi, yakni Rp 150.000 per kilogram, sementara cabai rawit asal Makassar berada di kisaran Rp 110.000 hingga Rp 120.000 per kilogram.
"Kalau untuk sekarang, rica dijual harga Rp 150.000 untuk (asal) Gorontalo. Kalau yang Makassar itu pada angka Rp 110.000 sampai Rp 120.000."
Kenaikan ini terbilang drastis jika dibandingkan harga sebelumnya. Cabai rawit asal Gorontalo sebelumnya berkisar antara Rp 140.000 hingga Rp 145.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit dari Makassar hanya sekitar Rp 55.000 hingga Rp 60.000 per kilogram. Artinya, harga cabai rawit Makassar melonjak hampir dua kali lipat dalam periode kemarau ini.
Lonjakan Harga Meluas ke Berbagai Jenis Cabai
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada cabai rawit. Cabai keriting turut melonjak ke kisaran Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per kilogram, sementara cabai kering dipasarkan sekitar Rp 80.000 per kilogram. Kondisi serupa bahkan lebih parah tercatat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, di mana harga cabai rawit sempat menembus Rp 180.000 per kilogram pada 28 Agustus 2026.
Gagal Panen Picu Berkurangnya Pasokan
Pemicu utama lonjakan harga adalah gagal panen di sejumlah daerah penghasil cabai, termasuk Gorontalo — salah satu pemasok utama cabai ke Manado. Kemarau panjang yang berlangsung sejak sekitar bulan Juni 2026 mengganggu produksi pertanian secara signifikan, sehingga pasokan cabai yang masuk ke pasar-pasar di Manado berkurang drastis. Meskipun demikian, permintaan masyarakat Manado terhadap cabai tetap tinggi karena komoditas ini merupakan bahan esensial dalam masakan khas daerah setempat.
DPRD Sulut Desak Pemerintah Bertindak
Lonjakan harga ini menarik perhatian kalangan legislatif daerah. Ketua Komisi II DPRD Sulawesi Utara, Inggried Sondakh, mendesak pemerintah untuk menangani persoalan ini secara serius.
"Kalau harga rica sudah Rp 150 ribu per kilogram, ini tentu sangat membebani masyarakat. Pemerintah harus melihat persoalan ini secara serius."
Inggried juga menyoroti perlunya langkah antisipatif dari pemerintah dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem terhadap ketahanan pangan.
"Kemarau memang tidak bisa kita kendalikan, tetapi dampaknya terhadap harga dan ketersediaan pangan harus bisa diantisipasi pemerintah."
Kronologi Kenaikan Harga
Berdasarkan data yang dihimpun, tren kenaikan harga cabai rawit di Pasar Bersehati telah berlangsung bertahap. Pada 24 Agustus 2026, harga tercatat di angka Rp 110.000 per kilogram. Enam hari kemudian, pada 30 Agustus 2026, harga naik ke Rp 120.000 per kilogram. Pada 31 Agustus 2026, harga kembali melonjak ke level tertinggi yakni Rp 150.000 per kilogram untuk cabai asal Gorontalo. Kemarau yang melanda Sulawesi Utara dan sekitarnya tercatat mulai berdampak signifikan pada sektor pertanian sejak sekitar bulan Juni 2026.
Situasi ini mendorong desakan agar pemerintah daerah segera mencari solusi jangka pendek — seperti operasi pasar atau penyaluran pasokan alternatif — sekaligus merancang strategi jangka panjang guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di Sulawesi Utara.