BMKG: Angin Kencang Intai Pesisir dan Kepulauan Sulut 24–30 Agustus 2026

BMKG keluarkan peringatan dini angin kencang untuk tujuh kabupaten/kota di Sulawesi Utara selama sepekan penuh.

MW Media
Published Agustus 25, 2026 • 06.10 WITA
BMKG: Angin Kencang Intai Pesisir dan Kepulauan Sulut 24–30 Agustus 2026
Gambar Ilustrasi

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Angin Kencang di Sulawesi Utara untuk Periode 24–30 Agustus 2026

MANADO — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa angin kencang untuk wilayah pesisir dan kepulauan Sulawesi Utara (Sulut) pada periode 24 hingga 30 Agustus 2026. Peringatan ini diumumkan pada Sabtu, 23 Agustus 2026, dan mencakup tujuh kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Wilayah Terdampak Per Hari

Peringatan dini berlaku secara bertahap dengan cakupan wilayah yang bervariasi setiap harinya. Pada Senin, 24 Agustus 2026, potensi angin kencang diperkirakan terjadi di Kota Bitung, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, serta Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud.

Pada Selasa, 25 Agustus 2026, cakupan wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang relatif sama, meliputi Kota Bitung, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Kepulauan Talaud.

Adapun pada Rabu, 26 Agustus 2026, terdapat pergeseran cakupan dengan masuknya Kabupaten Bolaang Mongondow ke dalam daftar wilayah terdampak, yakni Kota Bitung, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kabupaten Bolaang Mongondow, serta Kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud.

BMKG memperkirakan potensi angin kencang akan berlanjut hingga 30 Agustus 2026, khususnya di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dan Kabupaten Kepulauan Talaud pada 29–30 Agustus.

Penyebab: Monsun Australia, El Niño, dan Bibit Siklon Tropis

BMKG menjelaskan bahwa sejumlah faktor atmosfer berkontribusi pada peningkatan kecepatan angin di wilayah Sulut. Koordinator Bidang Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Karina Husna, menyebutkan kombinasi fenomena global sebagai penyebab utama.

"Monsun Australia aktif dan El Nino dengan intensitas kuat berpengaruh terhadap terhambatnya pertumbuhan awan akibat kondisi tekanan udara yang tinggi, yang turut meningkatkan kecepatan angin di wilayah Sulut."

— Karina Husna, Koordinator Bidang Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado

"Selain kondisi tersebut, keberadaan bibit siklon tropis 97W di wilayah Samudra Pasifik bagian utara Papua turut mendukung peningkatan kecepatan angin di Sulawesi Utara."

— Karina Husna, Koordinator Bidang Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado

Selain Monsun Australia dan El Niño berkekuatan kuat, Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga disebut turut berperan dalam menciptakan kondisi tekanan udara tinggi yang menghambat pertumbuhan awan sekaligus mempercepat angin permukaan.

Kecepatan Angin Tertinggi di Perairan

Untuk aktivitas pelayaran, BMKG mencatat kecepatan angin tertinggi yang perlu diwaspadai terjadi di Selat Lembeh dengan kecepatan mencapai 42 km/jam, serta di Pulau Sara dengan kecepatan 37 km/jam. Kondisi ini berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan di perairan Sulut.

Curah Hujan Tidak Masuk Status Siaga

Meskipun peringatan angin kencang dikeluarkan, BMKG menegaskan bahwa seluruh wilayah Sulawesi Utara tidak berada dalam status Waspada, Siaga, maupun Awas untuk curah hujan sedang hingga ekstrem pada periode 24–26 Agustus 2026. Kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Sulut secara umum diperkirakan cerah hingga hujan ringan.

Imbauan kepada Masyarakat

BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang bermukim di wilayah pesisir dan kepulauan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak angin kencang yang dapat mengganggu berbagai aktivitas. Nelayan dan pengguna transportasi laut disarankan untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca dan informasi terkini dari BMKG sebelum melaut.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk menghindari berteduh di bawah pohon, baliho, atau bangunan yang berpotensi roboh saat terjadi angin kencang. BMKG juga mencatat bahwa musim kemarau yang melanda Sulut turut memicu sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah, menambah kompleksitas kondisi cuaca dan kebencanaan di daerah tersebut.

Masyarakat dapat memantau informasi cuaca terkini dan resmi melalui kanal-kanal komunikasi BMKG Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado.