AS Umumkan Sanksi 'D-Day Ekonomi' Terhadap Iran, Peringatkan Negara Lain Termasuk Tiongkok
WASHINGTON, 24 Agustus 2026 — Amerika Serikat pada Senin mengumumkan perluasan besar-besaran sanksi sekunder terhadap Iran dalam operasi yang dijuluki "D-Day Ekonomi" atau "Operation Economic Outcast". Langkah ini menjatuhkan sanksi kepada hampir 60 entitas, individu, dan kapal di seluruh dunia — termasuk sejumlah pihak di Tiongkok daratan dan Hong Kong — sebagai bagian dari upaya Washington memutus seluruh jalur keuangan yang menopang Teheran.
Pengumuman Bessent dan Lima Sektor Sasaran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memimpin pengumuman sanksi tersebut, menegaskan bahwa langkah ini menargetkan lima sektor utama ekonomi Iran: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan perkapalan. Bessent memperingatkan seluruh negara dan entitas asing agar menghentikan hubungan bisnis dengan Iran, atau menghadapi risiko terputus dari sistem keuangan berbasis dolar AS.
"Kami melancarkan serangan ekonomi terhadap koneksi keuangan Iran di seluruh dunia. Tujuan kami adalah memutuskan setiap jalur kehidupan ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendiri."
Bessent menggunakan analogi militer bersejarah dalam memperkenalkan kebijakan ini.
"Dalam Perang Dunia Kedua, D-Day menandai dimulainya kampanye bersejarah dengan sekutu kami untuk menargetkan dan mengusir musuh dari posisinya, termasuk di negara-negara ketiga. Hari ini, dengan semangat yang sama, kami melancarkan serangan ekonomi terhadap koneksi keuangan Iran di seluruh dunia."
Menteri Keuangan itu juga memberikan peringatan keras kepada seluruh lembaga keuangan global.
"Setiap entitas yang memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan dari sistem dolar AS. Jamnya baru saja mulai berdetak."
Latar Belakang: Konflik Pasca-Februari 2026
Sanksi ini merupakan eskalasi signifikan dari tekanan AS terhadap Iran yang menguat sejak serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 — peristiwa yang memicu konflik bersenjata dan gangguan pelayaran di kawasan Teluk dan Laut Merah. Tujuan utama Washington adalah menekan Iran agar menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di kedua jalur perairan strategis tersebut.
Ekonomi Iran sendiri telah berada dalam tekanan berat akibat kombinasi kehancuran akibat perang, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta efek kumulatif sanksi AS yang telah berlangsung selama beberapa dekade sejak awal 1980-an.
Pada 21 Agustus 2026, tiga hari sebelum pengumuman ini, Presiden Donald Trump telah lebih dulu memperingatkan akan diberlakukannya tingkat perang dan isolasi ekonomi yang disebutnya "belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Iran. Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif pada barang-barang dari negara-negara yang tetap berbisnis dengan Iran.
Sanksi Siber: Empat Warga Iran Dijerat
Selain sanksi ekonomi sektoral, Departemen Keuangan AS pada hari yang sama juga menjatuhkan sanksi kepada empat warga Iran atas dugaan peran mereka dalam peretasan infrastruktur penting dan pencurian siber yang menargetkan Amerika Serikat.
Respons Trump dan Reaksi Teheran
Presiden Trump menyambut pengumuman sanksi itu dengan pernyataan singkat namun bernada triumfal di platform Truth Social miliknya.
"IRAN BENAR-BENAR RUNTUH!!!"
Teheran menolak langkah Washington dengan nada menantang. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons melalui platform X.
"Kami telah melihat film ini sebelumnya. Omong kosong yang sama. Pengganggu yang berbeda."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menambahkan.
"Iran telah menunjukkan selama beberapa dekade bahwa mereka tidak akan tercekik oleh refrain yang melelahkan ini."
Kepala Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei melangkah lebih jauh dengan ancaman yang menyasar kepentingan energi global.
"Jika Trump mengambil tindakan, konfrontasi kami akan (membalas) seperti gempa bumi. Jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika dalam perang ekonomi mereka, tidak setetes pun minyak akan keluar dari Teluk Persia dan Selat Hormuz. Kami juga akan menargetkan jalur ekspor minyak lainnya dari Teluk Persia."
Faktor Tiongkok: Kunci Efektivitas Sanksi
Para analis mencatat bahwa efektivitas kampanye sanksi ini sangat bergantung pada seberapa jauh Washington bersedia menekan Tiongkok — mitra ekonomi terpenting Iran yang tersisa. Penjatuhan sanksi kepada sejumlah entitas di Tiongkok daratan dan Hong Kong menjadi sinyal awal niat AS, namun skala tekanan sesungguhnya terhadap Beijing masih belum teruji.
Dinamika ini akan mendapat ujian lebih lanjut pada 24 September 2026, ketika Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Gedung Putih. Pertemuan itu dipandang sebagai salah satu momen paling krusial dalam menentukan sejauh mana sanksi baru ini akan berdampak nyata terhadap perekonomian Iran.
Pembicaraan langsung resmi terakhir antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung enam bulan itu berlangsung pada Juni 2026, tanpa menghasilkan terobosan berarti.